SEMUA ANAK ADALAH BINTANG - Setiap anak, baik yang terlahir dari rahim sendiri atau anak didik kita, semuanya merupakan amanah yang harus dididik dengan baik dan benar. Mendidik mereka, berarti kita sedang menyiapkan generasi terbaik di masa yang akan datang. Untuk mewujudkan semua itu, ungkapan Thomas Amstrong “ Setiap anak adalah Jenius” bisa dijadikan bahan perenungan sehingga dimaknai lebih luas oleh para aktor pendidikan dalam hal ini orangtua dan guru.
Mendengar kata jenius, biasanya terbayang dalam benak kita yaitu anak yang memiliki IQ di atas rata-rata, selalu bergelut dalam dunia penelitian dan sains, mampu menjuara berbagai olimpiade atau kompetisi lainnya. Anggapan ini, tidak sepenuhnya benar, karena jika hal ini menjadi tolak ukur, maka “predikat jenius” hanya akan di miliki oleh sebagian orang saja. Padahal Allah SWT menciptakan setiap hamba-Nya dengan sebaik-baiknya dan seadil- adilnya.
Setiap anak dilahirkan dengan kelebihannya masing masing. Kelebihan itu yang biasanya unik, dan keunikan itulah yang merupakan kejeniusannya. Namun terkadang kejeniusan anak itu, masih tersimpan dalam dirinya, belum muncul ke permukaan, maka tugas orangtua dan gurulah yang harus menggali mengasah dan mengembangkan potensinya ini, supaya terlihat dan berkembang terus sampai anak tersebut menjadi jenius di bidangnya.
Oleh karena itu, perlu kiranya para aktor pendidikan (orangtua dan guru) memperluas pemahamannya tentang makna kejeniusan itu sendiri. Kejeniusan harus lebih dimaknai sebagai “ Kemampuan yang unik dari setiap anak untuk melakukan hal- hal luar biasa, dan merasa gembira melakukannya, dalam berbagai bidang sesuai dengan passion dan talentanya masing masing”. Dengan memiliki pemahaman kejeniusan yang tepat, maka semua anak akan diperlakukan istimewa tanpa pandang bulu.
Karakter kejeniusan pada massa kanak kanak begitu terlihat jelas, misalnya anak memiliki imajinasi yang hidup, tingkat kreatifitasnya tinggi, rasa ingin tahu yang besar, pantang menyerah dalam belajar.. Hal ini akan terus terbawa sampai anak menginjak usia remaja bahkan menjadi pondasi yang kuat untuk masa dewasanya, apabila anak tersebut diasuh oleh orang yang tepat dan lingkungan yang mendukung. Tetapi terkadang lingkungan dan pola asuh yang salah dapat memandulkan karakter kejeniusan tersebut.
Sebagai upaya untuk menjaga kejeniusan anak ini, para aktor pendidikan (orangtua dan guru) perlu senantiasa membangkitkan motivasi intrinsik anak supaya tetap semangat dalam belajar, membuat kegiatan kegiatan kreatif yang memicu keaktifan kejeniusan anak tersebut, sehingga pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan. Hindari suasana pembelajaran yang penuh tekanan, pembandingan, penghakiman serta kritikan yang tidak mendidik. Para pendidik harus mampu membuat anak tersenyum bahagia menikmati suasana belajar dan senantiasa menjaga mindset positif bahwa setiap anak adalah jenius yang mampu menjadi bintang di bidangnya masing masing. Semoga bermanfaat
