Oleh:
Lilik Latipah, S.Pd, M.PKim
Berhijrah Menjadi Guru Kaffah - Kita sudah memasuki gerbang
Tahun 1441 H. Kalau melihat sejarah tentang tahun baru Hijriyah, erat kaitannya
dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari kota mekah ke madinah. Hijrahnya
rasullulah ini memberikan pembelajaran kepada kita akan pentingnya essensi
“hijrah”. Walaupun memiliki perbedaan antara hijrahnya rasullulah dengan hijrah
kita pada era modern sekarang ini, tapi secara maknawi memiliki kesamaan.
Secara umum, hijrah memiliki makna perubahan dari satu situasi
kepada situasi lain yang lebih baik. Dalam level individu, hijrah juga dapat
bermakna perubahan dari satu perilaku menuju perilaku yang lebih baik. Semua manusia, memiliki kesempatan untuk
melakukan hijrah mengenai kualitas dirinya supaya menjadi lebih baik lagi,
tidak terkecuali bagi seorang pendidik (Guru) sekalipun, bisa menjadikan
momentum tahun baru hijriyah ini sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba
menjadi guru kaffah (seutuhnya) yang berkualitas.
Guru kaffah adalah guru yang totalitas mengabdikan diri untuk
menjalankan profesinya dengan sungguh-sungguh. Segala potensi dioptimalkan
untuk memberikan kontribusi pada profesinya tersebut. Ketika profesi guru sudah
menjadi pilihannya, dia tak ragu lagi untuk selalu berusaha menjadi pendidik
yang profesional dan berkualitas.
Menjadi guru kaffah yang profesional dan berkualitas, tidak semudah
membalikan telapak tangan, semuanya membutuhkan perjuangan. Termasuk hijrahnya
kualitas diri sang pendidik pun merupakan bagian upaya mewujudkan guru kaffah.
Lantas bagaimana cara hijrahnya para pendidik (guru) supaya menjadi guru
kaffah? Setidaknya untuk berhijrah menjadi guru kaffah, ada beberapa hal yang
harus benahi:
Pertama, meluruskan niat. Niatan apa yang tertanam di dalam hati
untuk menjadi guru selama ini? jika niatannya masih penuh intrik lainnya maka
perlu diluruskan lagi. Niatkan untuk menjadi guru yang totalitas
mengabdikan diri untuk kemajuan
pendidikan karena Allah SWT semata. Dengan niat yang kuat, maka ini akan
menjadi modal penting untuk memegang komitmen tiap pendidik (guru).
Kedua, perlunya menjadi insan pembelajar sepanjang masa.
Perkembangan zaman yang begitu pesat, terlebih di era digital saat ini, sudah
seharusnya bagi seorang pendidik untuk senantiasa meningkatkan berbagai
kompetensinya, mengingat tugas seorang pendidik tidak hanya mentrasfer
pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu. Seluruh peserta didik diharapkan akan
mudah menerima ilmu yang diperolehnya, sehingga mendapatkan kebermanfaatan dari
ilmu yang didapatnya itu. Hal ini menjadi tantangan bagi setiap pendidik untuk
terus belajar berbagai hal guna menambah wawasan dan pengetahuannya. Jadi, jika
selama ini masih enggan untuk belajar, maka momen tahun baru ini saat yang
tepat untuk berubah.
Ketiga, disiplin waktu yang tepat. Penting sekali bagi seorang guru
kaffah untuk mendisiplinkan diri dalam mengatur waktu untuk setiap kegiatannya.
Disiplin saat datang dan pulang sekolah tepat waktu, disiplin dalam mengatur
pembagian tugas domestic dan tugas yang berkaitan dengan profesinya. Sehingga
dengan manajemen waktu yang baik, bisa dipastikan segala tugas kewajibannya
akan terlaksana dengan optimal.
Keempat, pelayanan prima bagi seluruh peserta didik. Seorang guru
kaffah perlu berhijrah dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik, dari
yang tadinya setengah hati menjadi sepenuh hati. Dalam mindset guru kaffah,
semua peserta didik adalah bintang. Semua dilayani dengan penuh kasih tanpa
kecuali. Akibatnya para peserta didik merasa nyaman dan senang belajar
dengannya, diharapkan potensi peserta
didik yang berbeda-beda ini bisa berkembang maksimal.
Kelima, Visioner. Seorang guru kaffah perlu berjiwa visioner.
Pikiran dan tindakannya jauh ke depan tertuju untuk kemajuan seluruh peserta
didiknya. Biasanya guru yang berjiwa visioner senantiasa menggali hal-hal baru
dalam meningkatkan kualitas dirinya sebagai sumbangsih untuk kemajuan
profesinya.
Itulah beberapa hal di atas, upaya yang bisa dilakukan untuk
berhijrah menjadi guru kaffah. Tentunya momentum tahun baru ini, bisa dijadikan
bahan refleksi diri, khususnya bagi para
pendidik untuk memperbaiki hal-hal yang kurang baik selama ini, harus kita
hijrahkan supaya menjadi lebih baik lagi. Wallahu’alam.